O God, thank you so much

Here i am, on the second last day in my office, wondering what my life looks like for the the past 12 months.

Sedih? Pasti. Namun semangat yang dulu selalu saya miliki telah kembali terikat dalam ruh kehidupan ini.

It’s been a while i havent write any of my thoughts on this blog nor my other blog. Well,my life for the past 12 months has sharpened me into stronger man and it’s because of Him.

Menyadari bahwa saya pernah ingin melepaskan nafas dari jiwa ini cukup ironis. Saya pikir saya adalah orang yang tangguh seperti anggapan kebanyakan teman-teman saya. Ternyata saya tak lebih dari seorang manusia yang terkadang larut dalam masalah hingga menutup lubang untuk secercah sinar kehidupan.

Tidak mudah manakala menapaki bulan-bulan kekelaman. Semua penat yang ada di bahu memaksa saya untuk berjalan tertunduk dan duduk terkulai senantiasa sepanjang hari. Pandangan menerawang jauh meminta Ia untuk memanggil saya pulang kerap saya lakukan bahkan ketika saya berada dalam keramaian sekalipun.

Cukup waktu untuk memberanikan diri padaNya untuk memberikan tanda jalan mana yang saya harus pilih. Dari langkah itu saya benar-benar bisa mendapatkan jawabanNya walau rupaya saya tidak seberuntung seorang penulis "Heaven is Real" dari China yang saya lupa namanya dan dia mampu berkomunikasi langsung denganNya, literally.

Ternyata kita harus sadar jawaban Dia bukanlah dan tidak pernah harus sesuai dengan kemauan kita. Dia tahu apa yang kita perlukan. Dia tahu apa yang terbaik untuk kita. Dia biarkan cobaan menghujam habis jiwa dan segala asa yang kita punya karena Dia punya rencana indah di depan. Jawaban "tidak" mutlak hak yang dimilikiNya.

Kesabaran saya diuji luar biasa. Tidak saya pungkiri, semua kekalutan mempengaruhi pola kerja saya, hubungan saya dengan teman dan keluarga dan yang lebih menyakitkan ialah merasakan bahwa ada mahluk lain yang siap mengambil nyawa saya di suatu malam.

Saya bersyukur saya pernah melewati masa hitam dalam hidup saya. Dan hari ini saya berdiri diatas kaki saya sendiri, melangkah untuk melanjutkan cita-cita saya, merubah alur cerita hidup saya hingga kala waktunya saya akan menghebuskan nafas saya yang terakhir, saya dapat dengan bangga berkata "I’m glad You gave me a second chance to give You back, O Lord".

Uniknya, saya semakin menyadari material dalam hidup ini benar-benar hanya untuk kesenangan semata. "Pikirkan yang diatas bukan yang di bumi" tertulis dalam suatu kitab. Dan itu benar adanya.

Apakah saya masih sering jatuh bahkan sesudah saya memproklamirkan kemenangan saya atas peperangan batin saya? Jawabannya ya. Namun sungguh saya menyikapi diri saya dengan pandangan yang jauh lebih baik. Saya bukan orang yang sempurna namun saya akan terus memacu diri saya lebih keras hingga pada kesudahannya.

Menghirup udara dan melangkah dengan guratan senyum di wajah saya adalah penanda bahwa saya menang atas semua pergulatan ini. Tidak ada akar pahit. Tidak ada kekhawatiran. I’m strong because of Him. He was,He is and He will always be there for me.

Kawan, jangan bergantung kepada dirimu ataupun pada orang lain. Bersandarlah padaNya yang empunya hidupmu.

Tabik,

Sari

Leave a Reply