Dimampukan untuk mendapat akses menuju keberhasilan, kamu salah satunya?

Hal yang lumrah apabila saya dan juga teman-teman saya kadang mendiskusikan keberhasilan atau mungkin lebih tepat bila dikatakan yang sudah kita raih sampai saat ini.

Baru sesaat yang lalu saya terusik dengan komentar teman kantor saya. Sebenernya mungkin komentarnya biasa saja yakni menurutnya orang-orang yang mampu akan lebih mudah mendapatkan akses menuju kesuksesan ketimbang orang yang berasal dari kondisi keluarga seadanya.

Saya sendiri setuju dengan pendapat tersebut walau pada akhirnya kerja keras orang tersebut yang menentukan berada dimana si orang itu di titik akhir. Semisal, lulusan universitas yang berada di Indonesia Timur akan sulit bersaing dengan lulusan universitas di Jawa.

Saya sendiri ingin berpendapat kalau sangat disayangkan buat teman-teman yang dimampukan untuk berhasil hanya tidak mau menggunakan kesempatan yang sudah diberikan. Menurut teman saya (lagi), saya selayaknya bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan sekarang dengan rentang usia yang terbilang junior.

Lulusan universitas negeri favorit lebih bisa mendapatkan kemudahan untuk berkarir dibandingkan dengan lulusan universitas negeri ‘biasa’. Namun bila kita menilik usaha meningkatkan modal diri dalam diri kita tentu ada harga yang harus dibayar. Pada poin ini, saya dan juga banyak orang lain mungkin berpendapat sama yakni orang-orang yang dimampukan seringkali lebih mudah menuju keberhasilan.

Dengan tingkat persaingan yang demikian ketat dan tuntutan keahlian yang diharapkan calon employer membuat semua SDM giat memperkaya ilmu. Untuk memperkaya ilmu jelas membutuhkan biaya. Yang memiliki biaya tersebut jelas harus memiliki modal dalam artian uang. Siapa yang memiliki modal tersebut haruslah seseorang yang cukup mampu untuk membiaya kebutuhan primernya terlebih dahulu. Jadi, mereka yang memiliki uanglah yang pada akhirnya memiliki keahlian/kemampuan lebih.

Semisal, bagi saya yang bergerak di bidang komunikasi, tidak cukup untuk memiliki keahlian komunikasi dengan ilmu khusus yakni public relations. Kebanyakan perusahaan saat ini menuntut multi tasking yang menuntut kita untuk memperkaya modal. Contoh keahlian-keahlian lain yang dituntut untuk profesi saya ialah design grafis dan menulis. Belum lagi kemampuan managerial lain seperi project management, issue advocavy with media dan lainnya yang mungkin bisa didapat melalui short course ataupun buku-buku. Inipun membutuhkan biaya.

Dengan kebutuhan hidup dan tuntutan persaingan yang demikian ketat, biaya untuk memperkaya diri menjadi sedemikian penting.

Akhirnya, sangatlah sayang bila ada orang yang membuang kesempatan untuk berhasil manakala ia dimampukan untuk itu.

Leave a Reply