Bekerja di Lantai 17

Sekarang hampir 3 minggu gw bekerja di lantai 17 ini. Ruangan yang gw tempati terbilang nyaman dengan jendela besar menghadap sudirman. Seneng juga pagi-pagi bisa liat jalanan. Gedung depan gw sih apartemen. Kadang malas juga lihat jemuran handuk warna-warni yang terpampang itu. Tapi pemandangan yang selalu gw pasti lihat ialah langit abu-abu jakarta. Langit kok abu-abu?!

Keseharian gw di gedung tinggi ini jelas berbeda dengan rutinitas kerja gw kalau di Aceh. Di Aceh,kondisi gw jauh lebih nyaman. Hidup juga lebih teratur di sana. Semisal, ritual pagi gw kala di sana dimulai dengan menyiapkan teh/kopi sendiri dan memulai membaca renungan di sebuah website. Sesudah semua itu gw lakukan baru memilah pekerjaan mana yang harus dikerjakan. Ruang yang gw tempati terbilang luas karena hanya ada dua orang di dalamnya. Kita berdua masuk dalam tim Cross Cutting Support. Kalau siang, makan bareng sama temen-temen yang -sayangnya- hampir itu-itu saja menunya yakni Bakso khas Aceh atau nasi dan lauk-pauk khas Aceh.

Suasana di kantor Aceh juga jauh lebih kekeluargaan.Dalam artian jarang sekali kantor terlihat seperti ‘kantor’. Tidak jarang, dua komputer memasang lagu-lagu MP3 sampai terdengar ke seluruh ruangan. Salah satu pelakunya ya gw ini. Tapi untungnya gw dan temen seruangan gw punya selera musik yang hampir sama. Jadi lagu-lagu yang sering kita denger bareng ga jauh dari Jamiroquai,Ermy Kulit,Dewa,Vina Panduwinata,Ruth Sahanaya,Padi,Level 42,The Rippingstone,de el el. Tapi suka ga tahan kalau temen gw mulai pasang dangdut.hehehe…

Di Kantor Jakarta, tampilan gw juga beda. Mengapa? Karena semua baju kantor gw masih di Aceh, jadilah gw tampil seadanya-yang lebih ke arah berantakan. Ah, lagipula kalau gw pakai pakaian kantor Aceh pasti ga cocok dengan suasana di Jakarta. Kenapa? Karena kebanyakan baju terusan gw baju gambis.Note: Aceh.

Tapi suasana yang paling gw rindukan di Aceh ialah waktu ‘ngabur’ saat week end di sabang untuk diving atau jalan-jalan pagi dengan sapi-sapi sambil menghadap bukit barisan. Gw ini orang desa atau orang kota ya?

Bekerja di lantai 17 memang menyenangkan sih dengan ritme kerja yang berbeda dan cukup menantang. Jadi inget kali pertama gw masuk kerja dengan menggunakan Kopaja 57 itu. At that time, i felt like someone saying ‘welcome to the real world, dude’! Yeps, berkutat dengan banyak orang untuk memulai mencari penghidupan merupakan hal menarik di pagi hari. Herannya, kenapa ya muka-muka orang di dalam bis itu carut marut? hehehe… Atau mungkin gw doang yang terlalu santai sampai tebar senyum sana sini sama para penumpang bus. Doelah..

Rutinitas di lantai 17 ini mulai hidup dari jam 9.30.Mungkin karena kondisi jalan raya yang membuat orang sering tidak bisa datang on time kali ya. Perbedaan paling unik manakala jam makan siang dimana gw berkutat dengan sejumlah kolega kerja yang notabene sudah berumah tangga semua. Seru! Obrolan itu dari urusan makanan, cerita anak-anak mereka. Khas ibu-ibu lah. Tapi itu semua ga buat gw bosen, seneng banget malah. Ga di Aceh, Ga di sini, gw tetep anak paling muda. Tantangannya satu, memastikan gw berada di platform yang sama dengan seluruh rekan yang terbilang senior dan ahli di bidangnya.

Gw sendiri melihat ritme kerja gw selama di Jakarta melambat luar biasa. Entah kenapa gw masih mandeg dengan apa yang harus kukerjakan saat saat ini. Well, ada sih yang gw kerjakan menjelang eksebisi air 3 hari lagi. Tapi karena kita sudah mempekerjakan satu konsultan humas, jadilah sekarang gw ga ada kerjakan.He he he

Kelebihan dari bekerja di lantai 17 ini juga pemandangan orang-orang yang beragam sekali di gedung ini. Menarik!

Leave a Reply