Archive for June, 2007

Dimampukan untuk mendapat akses menuju keberhasilan, kamu salah satunya?

Tuesday, June 26th, 2007

Hal yang lumrah apabila saya dan juga teman-teman saya kadang mendiskusikan keberhasilan atau mungkin lebih tepat bila dikatakan yang sudah kita raih sampai saat ini.

Baru sesaat yang lalu saya terusik dengan komentar teman kantor saya. Sebenernya mungkin komentarnya biasa saja yakni menurutnya orang-orang yang mampu akan lebih mudah mendapatkan akses menuju kesuksesan ketimbang orang yang berasal dari kondisi keluarga seadanya.

Saya sendiri setuju dengan pendapat tersebut walau pada akhirnya kerja keras orang tersebut yang menentukan berada dimana si orang itu di titik akhir. Semisal, lulusan universitas yang berada di Indonesia Timur akan sulit bersaing dengan lulusan universitas di Jawa.

Saya sendiri ingin berpendapat kalau sangat disayangkan buat teman-teman yang dimampukan untuk berhasil hanya tidak mau menggunakan kesempatan yang sudah diberikan. Menurut teman saya (lagi), saya selayaknya bersyukur atas apa yang sudah saya dapatkan sekarang dengan rentang usia yang terbilang junior.

Lulusan universitas negeri favorit lebih bisa mendapatkan kemudahan untuk berkarir dibandingkan dengan lulusan universitas negeri ‘biasa’. Namun bila kita menilik usaha meningkatkan modal diri dalam diri kita tentu ada harga yang harus dibayar. Pada poin ini, saya dan juga banyak orang lain mungkin berpendapat sama yakni orang-orang yang dimampukan seringkali lebih mudah menuju keberhasilan.

Dengan tingkat persaingan yang demikian ketat dan tuntutan keahlian yang diharapkan calon employer membuat semua SDM giat memperkaya ilmu. Untuk memperkaya ilmu jelas membutuhkan biaya. Yang memiliki biaya tersebut jelas harus memiliki modal dalam artian uang. Siapa yang memiliki modal tersebut haruslah seseorang yang cukup mampu untuk membiaya kebutuhan primernya terlebih dahulu. Jadi, mereka yang memiliki uanglah yang pada akhirnya memiliki keahlian/kemampuan lebih.

Semisal, bagi saya yang bergerak di bidang komunikasi, tidak cukup untuk memiliki keahlian komunikasi dengan ilmu khusus yakni public relations. Kebanyakan perusahaan saat ini menuntut multi tasking yang menuntut kita untuk memperkaya modal. Contoh keahlian-keahlian lain yang dituntut untuk profesi saya ialah design grafis dan menulis. Belum lagi kemampuan managerial lain seperi project management, issue advocavy with media dan lainnya yang mungkin bisa didapat melalui short course ataupun buku-buku. Inipun membutuhkan biaya.

Dengan kebutuhan hidup dan tuntutan persaingan yang demikian ketat, biaya untuk memperkaya diri menjadi sedemikian penting.

Akhirnya, sangatlah sayang bila ada orang yang membuang kesempatan untuk berhasil manakala ia dimampukan untuk itu.

Bekerja di Lantai 17

Monday, June 18th, 2007

Sekarang hampir 3 minggu gw bekerja di lantai 17 ini. Ruangan yang gw tempati terbilang nyaman dengan jendela besar menghadap sudirman. Seneng juga pagi-pagi bisa liat jalanan. Gedung depan gw sih apartemen. Kadang malas juga lihat jemuran handuk warna-warni yang terpampang itu. Tapi pemandangan yang selalu gw pasti lihat ialah langit abu-abu jakarta. Langit kok abu-abu?!

Keseharian gw di gedung tinggi ini jelas berbeda dengan rutinitas kerja gw kalau di Aceh. Di Aceh,kondisi gw jauh lebih nyaman. Hidup juga lebih teratur di sana. Semisal, ritual pagi gw kala di sana dimulai dengan menyiapkan teh/kopi sendiri dan memulai membaca renungan di sebuah website. Sesudah semua itu gw lakukan baru memilah pekerjaan mana yang harus dikerjakan. Ruang yang gw tempati terbilang luas karena hanya ada dua orang di dalamnya. Kita berdua masuk dalam tim Cross Cutting Support. Kalau siang, makan bareng sama temen-temen yang -sayangnya- hampir itu-itu saja menunya yakni Bakso khas Aceh atau nasi dan lauk-pauk khas Aceh.

Suasana di kantor Aceh juga jauh lebih kekeluargaan.Dalam artian jarang sekali kantor terlihat seperti ‘kantor’. Tidak jarang, dua komputer memasang lagu-lagu MP3 sampai terdengar ke seluruh ruangan. Salah satu pelakunya ya gw ini. Tapi untungnya gw dan temen seruangan gw punya selera musik yang hampir sama. Jadi lagu-lagu yang sering kita denger bareng ga jauh dari Jamiroquai,Ermy Kulit,Dewa,Vina Panduwinata,Ruth Sahanaya,Padi,Level 42,The Rippingstone,de el el. Tapi suka ga tahan kalau temen gw mulai pasang dangdut.hehehe…

Di Kantor Jakarta, tampilan gw juga beda. Mengapa? Karena semua baju kantor gw masih di Aceh, jadilah gw tampil seadanya-yang lebih ke arah berantakan. Ah, lagipula kalau gw pakai pakaian kantor Aceh pasti ga cocok dengan suasana di Jakarta. Kenapa? Karena kebanyakan baju terusan gw baju gambis.Note: Aceh.

Tapi suasana yang paling gw rindukan di Aceh ialah waktu ‘ngabur’ saat week end di sabang untuk diving atau jalan-jalan pagi dengan sapi-sapi sambil menghadap bukit barisan. Gw ini orang desa atau orang kota ya?

Bekerja di lantai 17 memang menyenangkan sih dengan ritme kerja yang berbeda dan cukup menantang. Jadi inget kali pertama gw masuk kerja dengan menggunakan Kopaja 57 itu. At that time, i felt like someone saying ‘welcome to the real world, dude’! Yeps, berkutat dengan banyak orang untuk memulai mencari penghidupan merupakan hal menarik di pagi hari. Herannya, kenapa ya muka-muka orang di dalam bis itu carut marut? hehehe… Atau mungkin gw doang yang terlalu santai sampai tebar senyum sana sini sama para penumpang bus. Doelah..

Rutinitas di lantai 17 ini mulai hidup dari jam 9.30.Mungkin karena kondisi jalan raya yang membuat orang sering tidak bisa datang on time kali ya. Perbedaan paling unik manakala jam makan siang dimana gw berkutat dengan sejumlah kolega kerja yang notabene sudah berumah tangga semua. Seru! Obrolan itu dari urusan makanan, cerita anak-anak mereka. Khas ibu-ibu lah. Tapi itu semua ga buat gw bosen, seneng banget malah. Ga di Aceh, Ga di sini, gw tetep anak paling muda. Tantangannya satu, memastikan gw berada di platform yang sama dengan seluruh rekan yang terbilang senior dan ahli di bidangnya.

Gw sendiri melihat ritme kerja gw selama di Jakarta melambat luar biasa. Entah kenapa gw masih mandeg dengan apa yang harus kukerjakan saat saat ini. Well, ada sih yang gw kerjakan menjelang eksebisi air 3 hari lagi. Tapi karena kita sudah mempekerjakan satu konsultan humas, jadilah sekarang gw ga ada kerjakan.He he he

Kelebihan dari bekerja di lantai 17 ini juga pemandangan orang-orang yang beragam sekali di gedung ini. Menarik!

Public Policy or Profit ‘policy’

Monday, June 4th, 2007

I am back..in the capital city of Indonesia. It’s a weird felling to live and work here again for more than two weeks. Good thing that i’m easy to adapt with changes.ha ha ha

So again i’m dealing with water issues. It’s water privatisastion!!! Oooo yeeeahhh, tricky issue yet it’s important.

Here’s the thing. Less than 30% of indonesians in rural area get water access (hell yeah).Meahwhile everbody need water. If people hear about water privatisation without clear understanding most likely they will ’scream’ and say ‘Water is from the Creator, it is not right to make it as a business’. Then i will say ‘Dude,try to open your eyes wider plus read more will ya!’ :-)

Why would i say that? Here’s why:

Yes, the water is made from the Creator. It’s given. But, it is the process to make it usable that is needing some funds. PDAM give services to provide the water not selling the water.

Mmm btw, before i get wrong impression i have to say again that this is fully my opinion and i’m not representing any organization.

The payment that goes to customer is to cover water pipe system from the mountain and or to process the raw water/waste water into water that can be used for customer. It is supposedly to be ready use but again since limited buget to maintain the water pipe with all the holes and or leakage all the way to the house, of course we as consumer have to boil it first.

If we think with more than 250 million people in Indonesia and if we really want to achieve Millenium Development Goals then there’s no way we are able to provide water for the poor unless together with national policy and private sectors work really hard to find alternative for water financing.

One of the report taken from www.psiru.org/reports/2003-03-w-finance.doc says this:

"water pays for water is no longer realistic in developing countries. Even Europe and the US subsidise services…Service users cant pay for the level of investments required, not for social projects…"

So it shows the dillema. Again situation in our country, organization who rules the water is a owned by Government. As usual (heck, i dont want to give wrong  statement, but this is what i feel as a good citizen who pay annual tax) a lot of management issues within the organization has to be re-structured. If i’m in private sector side, i would not give a financial support or even soft loan for water financing if i can’t see Return on Investment plus i dont want to give any financial support or loan to such lack of management organization. We’re not talking about 1 trillion but lots more, rite!

Despite of that situation, alternative for water financing is really crucial to help our brethern and sister all around our nation may have ‘water’. The first step is advocacy issue about what is alternative financing to water access. Second i think our gang have to prepare great fact sheets to have support from the one who holds the supremacy - and then they came out with national advocacy. (Geez, i hope it’s really okay to talk about this). Last, strong support for matrix of ROI and all other thingy related to convince private sector to jot down the details and make it  really happen… well if it’s not this year, at least we  have to reach the MDG before 2015.

Water issue has been an issue since early 1990s.. somehow it’s not so booming that people easily forgotten about one of the most important element in our life. So yeah i think it’s public policy not profit policy…