Masih mau jadi presiden sa?
Kalimat itu terlontar dari kekasihku sore ini. Hari ini aku mengikuti rapat terberat dengan rekan dari sebuah organisasi dan perwakilan dari dua instansi. Berat karena kelugasan wakil dari dua instansi menyatakan biaya ‘tak tertulis’ yang harus disediakan.
Me: sebel banget! Kenapa sih musti pake acara bayar ini bayar itu. Ini kan program dari pihak ‘mereka’ dan mereka jelas tahu ini tujuannya kan buat masyarakat. Lagipula yang meminta acara ini kan dari mereka?! Kita kan hanya pendukung.
Si Dia: Masih mau jadi presiden?
Me: Ko gitu sih ngomongnya? Tetap aja hal kayak gini harus dipertegas.
Si Dia: Nah itulah politik sa. Gimanapun kamu sedang bersinggungan dengan hal itu. Inget harus cerdik seperti ular dan lembut seperti merpati. Jangan terlihat ’sok’. Harus pintar-pintar menghadapi mereka.
Me: Iya, tahu. Cuman aku lemes aja. Heran, padahal dari dulu juga aku tahu hal seperti ini akan terjadi. Tapi karena ini kali pertama aku bersinggungan langsung dengan mereka,jadi sedih campur kesal aja.
—-Geez, i’m dealing again with this kind of stuff (again)—
Kondisi tersebut memaksa aku untuk kompromi dengan ‘kebijakan’ yang menurut aku bukan ‘bijak’. Tapi selama hal ini belum diketuk palu,mari kita berjuang!