WWD-Dive Time-Good Governance-World becoming sensitive?!

First and foremost, all of my opinion expressed on this blog is fully from me-myself. I am not representing any organization or any intitution.

1st.-Happy World Water Day!-

Well actually it was celebrated last week, exactly a week ago on March 23rd 2007. The theme was Coping with Water Scarcity. Hopefully most of us got the message within every celebration that was happening for the past week in all places and then use the water wisely.

Tim funky yang senantiasa sama dan tetap tangguh bener-bener berhasil melaksanakan event WWD kemarin. Rasa terima kasih gw yang ga berkesudahan buat Shadiqqi(udah masakin kue beratus-ratus sekalian buatin pita cute panitia), Dani (ngurusin sound system ampe jam 1 pagi dilanjutkan ngepel2 kantor dan ngebersihin kantor), Melly (yang rela nemenin gw ampe dini hari ngeberesin venue dan berakhir ‘masuk angin’), Eli (yang rela ditinggal gw di hari terakhir dan akhirnya kudu beresin buanyak banget hal sendiri sampe ga bisa ikutan FGD di Lampu’u), Ayi (yang berbaik hati mau jadi tim penerima tamu dengan tebaran senyumnya-walau ga jadi model koran ‘itu’), Jeng Sari (dengan upayanya minjem pinboard walaupun ga jadi dipake dan ngurusin list buku buat dipinjemin), Tan (duuh yang satu ini, walau garang, mau juga dikau ternyata mastiin suara ‘para bapak’ keluar pas konferensi media), Pak Syaipul (yang berbaik hati motong2in kertas bertuliskan ‘pers’ sekalian ngecek tinta printer supaya gw bisa ngeprint warna) dan Bang Budi, Brendi serta ‘Ayah’ Sulaiman yang bersedia nganter2 gw dan tim -se’mau’nya- huehehe… Belum lagi ucapan terima kasih sama temen2 di Lueng Bata mentok kiri (hihihi) atas pinjeman mobil Stradanya selama dua hari. We couldnt make it without your help mate! Thanks Cici & Miko. ai shiteru…(doelahhhh)

Lega sekali rasanya…. terbayar sudah jerih payah seluruh tim. Thank God!

2nd. Mengecap kebaikan dunia sehari saja…

It’s diving time. The last time i dive was on December 10th last yeat at Rubiah Tirta Diver, Iboih Beach, Sabang. After 3 months working really hard, i think i’ve to give a little present to myself. So yeah, i went to Sabang together with colleague from WWF (Ade) and Wetland International (Diana).

Rencananya sih mo stay di Iboih juga, tapi entah kenapa akhirnya diputuskan stay di Gapang aja. Sesudah mengerjakan ‘tugas’ yang emang kudu gw selesain, barulah gw mendaptarkan diri sebagai peserta diving untuk esok hari. Jadi berkunjunglah gw ke Lumba-lumba-Padi Dive Center. I talked with Tom. He’s a fine man and has a lovely wife. Niatnya sih mau ikutan night dive, cuman badan aja masih pengkor (secara 2 malam sebelumnya tidur jam 3.30 AM boo!!), ga jadilah gw.

Besoknya baru deh diving tepat pukul 9 AM. Boooooo!!!!!! Memang sih gw selalu mengalami kesakitan di telinga untuk kali pertama diving (always) tapi airnya maak maak… dingin gila udah gitu current-nya edan! Dive pertama, gw barengan 5 orang lain. Seneng banget sih, bisa bertemu dengan ikan-ikan itu. They’re just so cute. Selama 10 menit pertama, telinga masih sakit-walau gw terus dorong oksigen dengan menekan hidung gw sambil descend. Kedalaman dive pertama 22 meter. Not bad at all. Kangen deh liat fishy-fishy.

Dive kedua dimulai jam 11.00. Kerusuhan sempat terjadi takala mask gw entah menghilang kemana. Dan ini terjadi pas kapal dah mau cabut, dasar aneh! Kali kedua, gw dive bersama 10 orang lain. Ramee ajeee gitu… Nah nyemplung, telinga gw ga sakit lagi. Kita langsung meluncur ke kedalaman 24 meter. Temen2 yang lain pada turun ke kedalaman 27 meter. Cuman gw doang yang ada di 24 meter. 10 orang lain pada di bawah gw, malah ada yang di kedalaman 30 meter. Ah gw mah sebodo amat, yang penting ikutin aturan main yang ditetapin di awal (a.k.a dive max 24m). Tapi memang kemarin itu gw bodok berat2an. Ternyata eh ternyata saudara saudari…orang2 nyang dibawah itu bertemu SUNFISH sepanjang 3 meter…. Kumprengoooonnnnnnnnnnnn….. Arrrggghhh, gw cuman bisa liat dari atas doang tuh orang2 joget2 dalem air! Sebal gw! Asli gw sebal sekali!!… FYI, ketemu Sunfish atau Mula2 itu pengalaman yang sulit dirasakan, ikan jenis ‘buadakkk’ ini cuman berenang di tempat yang sangat dalam dan suhu yang dingin. Yah, secara dive kedua itu suhu air 19C (edun ga tuh, ini di Indonesia loh), jadi wajar aja kalo tu Mula-mula nongol di kedalaman 27 meter.Ajaib!

Udah kan tuh, udahlah kesal, air dingin, ditambah ga ketemu Hiu atau Napoleon yang biasa nangkring di Canyon, apes d gw! Jangankan Napoleon, si kakek kura-kura yang biasanya keliatan aja kaga ada.Entah kemana mereka semua! Untung sempet ketemu si jeng gurita dan angel fish favorit, jadi rasa sedih gw bisa redup dikit.

Niat hati sih mau ambil Navigation Course untuk Advance Diving License jam 3. Tetapi karena current yang berhasil memborbardir kepala dan sekujur tubuh, urung sudah niat gw. Acara dilanjutkan berleha-leha dipinggir pantai sambil mengisi log book disertai gonggongan ‘SUSU’ (anjing putih yang selalu wara-wiri di pantai gapang).

3rd. Good Governance…y is it so hard to implement this stuff??

Berangkat dari Gapang jam 7 pagi menuju Balohan dan dilanjutkan ke Ulee lhee (pelabuhan di Banda Aceh). Begitu nyampe, i got a ride to go back home. Sampe di rumah, TEWAS seketika, capeeekkkkkk. Sempet ketiduran sebelum akhirnya berangkat ke Meulaboh bersama tim ‘air’.

Duh, lewat Gempang lagi, alhasil rada mabok juga on the way ke Meulaboh. Sepanjang lewatin bukit barisan, entah berapa kali gw mengutuki ‘kekejaman’ yang makin merajamrela–>apalagi kalau engga kegiatan pembalakan di sepanjang kiri-kanan jalan. Sudahlah, mungkin manusia2 itu ga tau lagi mau ngapain nyari duit, kondisi dilematis juga yang menyebabkan itu semua. Politik Lingkungan menyebalkan!!

Memasuki hari kedua, tim ‘air’ mulai disibukkan dengan kegiatan membantu tim ‘lain’ untuk menerima ‘orang’. Karena ini adalah usaha pelaksanaan tata pemerintahan yang baik a.k.a good governance pertama kali, wah tantangannya berat. Asli deh. Tapi gw salut. Gw yakin tim ‘lain’ juga mendapatkan tekanan dari mana-mana. Untungnya dengan kehadiran tim ‘air’ akhirnya semuanya dapat bersikukuh untuk menjalankan yang tersurat. (duile bahasanyeee..)

Menurut gw penerapan good governance itu pasti senantiasa ada tantangannya. Tranparansi menjadi kian penting terlepas dari kepentingan2 yang mengikat, sekalipun apabila kepentingan itu berasal dari pemegang kuasa. Supremasi Hegemoni Lestari akan terus ada-menurut gw dan banyak orang pendahulu gw- (Iestari gitu loh). Yah kalo ‘kuasa’nya digunakan untuk menggebrak sesuatu dengan niat baik sih ga masalah, tapi kalo sebaliknya, kan dodol. Semuanya tergantung urat ‘malu’ dan urat ‘malu’. Kenapa gw bilang dua kali?

Pertama, malu yang gw maksud ialah malu sama yang diatas. Rasa-rasanya kalo emang kita tidak mau dan tidak bisa atau emoh dikatakan negara sekuler, dengan segala latar belakang religi yang ada dan berdasar UUD yang notabene berdasar TYME, ya malu dong sama yang diatas. Gini haree gitu,ngakunya ber-TYME tapi kok ternyata ibadah yang dilakukan (gw merujuk ke semua agama yang tercantum di UUD 45 maupun kepercayaan yang belum diakui) hanya rutinitas belaka yang pada akhirnya menjadi topeng?!?

Kedua, malu yang gw maksud ialah malu sama orang sekitar. Urat malu kebanyakan dari kita itu emang udah rada putus. Di’operasi’ juga ogah. Semua praktek yang kita ‘tahu’ kan selalu berasas ’sama-sama tahu’. Hah, aneh! Itulah hasil bentukan pendidikan yang RESULT ORIENTED dan bukan PROCESS ORIENTED. Orang makin kesini makin ‘aneh’ aja. ‘Malu’ yang gw maksud ini juga terkait dengan rasa rakus dan arogan yang entah ditularkan dari keturunan ke berapa ke banyak orang Indo. (maaf ya kalau tulisan gw ini menyebalkan, i’m just expressing my opinion).

Gw hakul yakin-again i’m only a simple girl with weird attitude- kalo bangsa yang kelewat gede ini butuh orang yang punya power (gw ngebayanginnya manusia besar dengan petir yang siap menyambar). Tapi itu semua harus dilandasi dengan niat yang tulus (am i talking bulls***?!-alas!!!) . Gw tahu, segala sesuatu di Indonesia Raya-ku ini tidak semudah membalikkan tangan. Entah kenapa gw selalu percaya kalo segelintir orang bisa merubah satu kondisi asal mau, bersinergi dan bertindak.Berat? Sudah pasti kawan.

4th The World Becoming Sensitive?!

Nah ini dia ni, kondisi terbaru dunia 2007 AC. Hayoo ngaku, siapa yang ngerasa dikit-dikit sensitip sekarang? Gw juga termasuk loh. Mmm, apa karena gw sensitip kalo pas bulan datang ya? (doelah alesannya, it’s so thousand years agooo deh saaa!) I still have to work on with this issue, unfortunately!

Dulu rasanya gw masih inget era ‘kebebasan berpendapat’ dengan segala tetek bengeknya. Walaupun di era emas ‘30 tahun’ kebebasan itu sempat terkekang, ternyata di era ‘post reform’ kebebasan itu laiknya pajangan toilet usang. Wong buktinya sekarang dikit-dikit ‘pencemaran nama baik’, dikit2 ngambek, dikit2 naik pitam, dikit2 tersinggung pokoknya dikit dikit titik titik deh.

Padahal wise man say: orang/kelompok/masyarakat yang dewasa ialah orang/kelompok/masyarakat yang tidak mudah digoyang oleh isu atau kabar burung. Kembali menurut gw, sekalipun ada tanggapan ‘menyebalkan’ atau ‘menyerang’ terhadap kita, lebih baik memang langsung di counter-but do it with style. Habis perkara. Atau mungkin didiamkan saja ya?!

Gw sendiri berusaha mengaplikasikan metoda counter langsung dengan pihak terkait. Walaupun gw akui, dengan ruwetnya deadline, terus ditambah keanehan orang yang menganggap selalu saja ada yang salah- sejatinya gw mengayomi saja daripada jadi galak. Well, gw langsung melakukan konfirmasi langsung manakala hal-hal seperti ini terjadi. Akhirnya ketemu jg deh benang merahnya-always! Ada benarnya juga kadang yang dituduhkan (coba tilik dalam-dalam dahulu), hanya sungguh, bentukan manusia saat ini termasuk gw menjadi manusia2 sensitif. Hal ini harus kita basmi nih, sebelum kita memasuki babak yang tidak diinginkan.

Mungkin ‘kesombongan’ adalah akar sensitip wataitip yang mewabah ini. Jadi kalau ada yang comment, waduh langsung esmosi tingkat tinggi. Sikap merasa paling benar, merasa paling kuat, merasa sudah berbuat paling hebat bisa jadi pemicu ‘penyakit aneh bin ajaib’ ini. Gw jadi berpikir, kenapa ya gw atau kita pada umumnya bodo amat aja dengan opini orang. Toh nantinya yang bener yang akan muncul at the end. Tapi ga bisa juga si, tetep harus ada respon tapi teteup with style dude. Koreksi diri juga tetep kudu jalan.

Jadi sebenernya, masih ada ga sih kebebasan berbicara,kebebasan mengutarakan pendapat, kebebasan mengekspresikan perasaan di zaman ini? Sudah barang pasti segala kebebasan itu harus berdasar dan bertanggung jawab. Masalahnya, lah emang kita udah berani tanggung jawab dan ekspresi yang kita hasilkan adalah hanya sekadar sebuah pendapat atau seni terus kenapa ’sana’ emosi?

———————————aneh - aneh———————————-

Tabik,

1:40 AM…sesudah bosan menyiapkan Media Kit buat besok pagi.

Leave a Reply